Rabu, 23 November 2011

keakuanku

Katakan pada Jenakanya Waktu, Tentang kelahiran kembali dan kemungkinan mutlak. Tentang keinginan dan keberadaan. Tentang bicara dan mendengar.
Menginspirasi sisi liarku yang nakal, bandel dan keras kepala. Tentang keberanian mengatakan ketidaksukaan. Tentang universalnya rasa bersalah. Tentang melakukan kesalahan dan diterima kembali. Tentang dia dan Ketakutanku. Tentang Dunia dan dosa. Tentang kelembutan dan ketegasan. Tentang ketakberdayaan dan kekuatan. Ceritakan selalu pada Jenaka Waktu, Ada sumbang dalam nada-nada dunia. Dia membutuhkan kita untuk berkaca! Berkaca itu susah! Meski ada seribu cermin mengelilingi. Jawabannya tak pernah tepat, bahkan mata juga punya titik hitam yang menghilangkan objek. Dan, seperti biasa, aku akan meminta waktu untuk berhenti sejenak, hingga kelahiran tertunda, kematian terelakkan sesaat dan perpisahan terulur...Sebuah permintaan yang sia-sia. Bukan karena waktu tidak ingin membantu, tapi dia tidak bisa. Tidak bisa. Itu pula yang aku pahami, ehm..setidaknya berusaha menerima, bahwa ada hal yang tak bisa ditunda dan tugasku adalah berdamai dengannya. Aku tak bisa mencegah kedewasaan yang turut menyumbang peran di wajahku. Aku tak bisa mengatakan tidak pada pori-poriku untuk membuka dan menutup saat aku tak sadarkan diri dalam tidur. Atau membuat jantungku berwarna hitam atau biru, warna kesukaanku. Itu akan membuatku mati sebelum waktunya.

Ada Juga kalanya, aku berpikir, bagaimana indahnya kehidupan setelah kematian itu. Dan itu sangat menggelitik, hingga membuatku berhenti memikirkannya sebelum memulai. Mungkin, sebaiknya menuruti keinginan Jenaka Waktu, tentang penerimaan yang menjadi motonya dan semangat yang menjadi nafasnya. Yach, anyway, apa yang aku punya, bisa jadi hanya pena ku dan Diriku. Ada masalah dengan itu?